Perjuangan Demokrasi Kita Hari Ini

Gambar Gravatar
IMG 20230301 WA0035

Oleh: Risal

Pemerhati Demokrasi

 

Bacaan Lainnya

Membincang demokrasi dalam frame masyarakat kita pada umumnya masih dipahami dengan cara yang sederhana: demokrasi adalah pemilihan langsung. Apakah itu memakai cara pemilihan dengan sistem terbuka ataupun tertutup, sama saja dimata masyarakat. Karena yang terpenting adalah jika melaksanakannya  dengan pemilihan langsung, maka itulah yang dimaksud demokratis. Padahal pemilihan langsung adalah salah satu metode dalam sistem politik yang demokratis baik itu terbuka ataupun tertutup dalam memilih legislatif maupun eksekutif. Termasuk juga bukan lagi hal yang baru dalam perjalanan demokrasi bangsa kita saat ini yaitu Demokrasi Pancasila.

Di mana kita pernah melaksanakan kedua-duanya, tentunya dengan situasi dan kondisi politik saat itu, bahkan untuk menetapkan pemilihan secara langsung atau tertutup pun itu juga melalui mekanisme demokrasi. Sehingga dengan begitu, kedewasaan dalam menyikapi setiap perubahan mekanisme dalam demokrasi juga mestinya menjadi ajang untuk lebih menguatkan kesadaran masyarakat secara umum dalam hal keterwakilan, sebagaimana dalam Pancasila sila ke 4 yakni “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan” yang dijiwai oleh sila pertama, kedua, ketiga dan kelima.

Perlu kita ketahui bahwa ada dua konsep dasar dalam demokrasi, yaitu kebebasan atau persamaan dan kedaulatan rakyat, disamping itu terkandung juga aspek prosedural demokrasi, seperti penyelesaian konflik secara damai. Pengertian kebebasan rakyat dan kekuasaan rakyat, yaitu melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusan politik mulai proses input politik sampai output politik. Oleh sebab itu, menurut David Beetham dan Kevin Boyle (1998) keunggulan demokrasi adalah konsep kesetaraan sebagai warga negara, lebih memungkinkan memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat umum, mengakui pluralitas dalam masyarakat yang majemuk dimana adalah suatu kondisi masyarakat yang terdiri dari berbagai perbedaan yang terdiri dari berbagai strata social, ekonomi, ras, suku bangsa, agama dan budaya yang berjalan dengan apa adanya, sehingga penyelesaian masalah dengan dapat melalui jalur kompromi, menjamin hak-hak asasi warga negara dan pembaharuan kehidupan sosial

Kebijakan demokrasi yang menitikberatkan pada prosudural demokrasi, memiliki dua dampak yang saling bertolak belakang. Pertama dengan adanya pemilihan langsung dalam Pilpres dan Pilkada serta bebasnya masyarakat mendirikan parpol seperti sekarang ini. Hal ini membuat rakyat dapat menegakkan kedaulatan hak politiknya  yang secara prosudural memenuhi syarat demokratis hingga membawa Indonesia menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Kedua, Pemilu atau Pilkada dalam pelaksanaannya tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Sehingga jika kita hitung jari seluruh provinsi dan kabupaten/kota berikut desa di seluruh Indonesia, maka jumlah dana yang akan dihabiskan untuk membiayai proses tersebut mungkin hampir setara dengan biaya APBN kita pertahun.

Artinya biaya demokrasi kita hari ini sangat mengecewakan ditengah masih banyaknya rakyat yang berada dalam garis kemiskinan. Pembiayaan politik menjadi pesaing pembiayaan publik, dan ironisnya dana yang telah dikeluarkan tidak mampu menyelesaikan masalah publik. Akan tetapi hal ini bukan berarti jika dana yang dihabiskan untuk pemilu diserahkan untuk menyelesaikan masalah publik dapat terselesaikan begitu saja. Justru hal tersebut dapat membuat lebih besarnya peluang dan ruang korupsi di negeri ini. Karena semua akan kembali pada sistem, kapasitas dan managerial yang terlibat dalam sebuah sistem demokrasi tersebut. Oleh karena itu, sistem politik demokrasi mesti harus dibentuk dan diperjuangkan secara bertahap karena ciri demokratisasi menurut Maswadi Rauf (1998) adalah: (1) proses yang tidak pernah selesai, (2) implementasi secara bertahap dan bersifat evolusioner, (3) satu perubahan sosial secara persuasif.

Di antara faktor penghambat perkembangan demokrasi menurut Dennock (1979) adalah: faktor historis, tatanan sosial ekonomi dan budaya politik yang keterbelakang. Peninggalan kolonialisme penjajah hingga carut marut perjalanan demokrasi pra reformasi masih membentuk pola pada wajah demokratisasi kita hari ini. Motif bersikap idiologis dan gairah politik terkikis dengan nafsu untuk mengejar kekuasaan dan kepentingan pribadi melalui mekanisme sistem politik pada jalur partai politik. Sehingga cukup banyak orang yang membayangkan bahwa politik itu adalah pekerjaan melamun karena ketidakmampuannya dalam menyetarakan nilai idealisme idiologis dengan kebutuhan yang mendesak yang berakibat terjadinya bentuk keputusan politik untuk berlomba-lomba mengejar harta dan kekuasaan.

Menurut Wiarda (1991), demokrasi tidak dapat kekal apabila keterbelakangan sosial ekonomi yang sangat jauh, budaya politik yang tak sesuai demokrasi seperti budaya feodal, institusi politik yang lemah, pegawai militer yang kuat dalam politik dan institusi-institusi masyarakat umum yang lemah. Ukuran-ukuran tingkah laku keberhasilan proses demokratisasi di negeri kita ini mungkin agak sulit. Perlu diperhatikan bahwa tidak hanya cita-cita yang penting. Yang lebih penting lagi ialah tugas apa yang harus dikerjakan untuk mencapai perkembangan demokrasi yang luas. Tugas-tugas itu mengikut Pye (1982) ialah masalah kepemimpinan, pembangunan suatu masyarakat yang berperadaban maju (civil society) yang menyadari bahwa hubungan mereka dengan pemerintah yang bersifat “input” yaitu usaha-usaha, pengorbanan, kesetiaan mereka dan menerima pelayanan dan “output” atau buah dari kebijakan-kebijakan pemerintah.

Oleh karena itu, sudah semestinya dilakukan penyadaran kembali akan nilai demokrasi sebagai sistem politik kita dan menjadikannya sebagai instrumen belaka dengan mendamaikan dilema antara demokrasi dan efesiensi, representasi dan kapabilitas. Karena tujuan demokrasi adalah cara kita dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Parpol menjadi mesin kaderisasi berkualitas yang meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya yang akan mengangkat martabat bangsa ini. Kita yakin bahwa jalan demokrasi adalah jalan utama dalam  membangun bangsa ini menuju masyarakat yang egaliter dan berperadaban.

 

Originally posted 2023-03-01 12:33:23.

Gambar Gravatar

Penulis partikelir. Menulis apa saja yang terkait politik dan budaya pop.

Pos terkait